Kreatif dan Inovatif di Masa Krisis

SEBAGIAN pengusaha tidak menjadikan kondisi krisis ekonomi saat ini sebagai ancaman, bahkan mereka mengubahnya menjadi peluang dengan berbagai strategi.

Namun demikian upaya efisiensi tak pelak harus dilakukan, meski tidak otomatis dengan pemutusan hubungan kerja karyawan. Sebagian pengusaha yang jeli memilih cara yang kreatif dan inovatif, bahkan ada yang berani menambah investasi.

Mesti Kreatif Agar Selamat
Jakarta, Kompas - Upaya efisiensi untuk tetap bertahan memutar derap usaha tidak harus melalui jalan pintas yang berujung pemutusan hubungan kerja. Kreatif dan berinovasi juga pilihan yang tak kalah cerdas, meskipun harus terlebih dahulu menambah investasi.

Sebagian pengusaha juga tidak melihat krisis sebagai ancaman. Bahkan mereka bertekad mengubahnya menjadi peluang dengan berbagai strategi.

Presiden Direktur PT Smart Tbk Daud Dharsono di Jakarta, Sabtu (31/1), menyatakan, saat permintaan dan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) turun, pihaknya segera mempercepat peremajaan tanaman. Smart menaikkan luas areal peremajaan dari 1.500 hektar menjadi 3.000 hektar tahun 2009.

”Saat harga CPO sedang bagus tahun 2008, wajar banyak yang menunda peremajaan tanaman. Sekaranglah waktu yang tepat untuk melaksanakannnya. Jadi, saat harga kembali membaik tiga tahun lagi, pohon baru yang lebih unggul dan produktif sudah menghasilkan,” kata Daud.

Smart merupakan salah satu perusahaan perkebunan terintegrasi dengan areal tersebar di Sumatera dan Kalimantan Selatan. Perkebunan milik kelompok Sinar Mas ini bergerak dari hulu sampai hilir kelapa sawit.

Daud, yang juga menjabat Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Bidang Penelitian dan Lingkungan Hidup, meminta pemerintah mengoptimalkan program revitalisasi perkebunan rakyat. Saat harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit turun seperti sekarang, perbankan harus menggenjot penyaluran kredit modal yang dijamin pemerintah.

Peremajaan tanaman bisa meningkatkan produktivitas perkebunan petani. Saat harga membaik, kesejahteraan petani pun meningkat.

Menurut Daud, krisis tidak berdampak langsung terhadap perkebunan. ”Panen harus tetap berjalan, demikian juga pabrik pengolahan TBS. Kalaupun ada yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), itu oleh kontraktor perluasan kebun karena perusahaan inti menghentikan ekspansi selama krisis,” jelasnya.

Efektivitas pekerja juga menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas. Pemanen kelapa sawit yang biasanya menghasilkan 1,8 ton TBS per hari, kini dioptimalkan menjadi 2,2 ton per hari.

Langkah lain menekan biaya produksi adalah mekanisasi dan pengurangan frekuensi pemupukan. Perusahaan perkebunan mulai menggunakan mesin penyebar pupuk yang digandeng traktor di antara jalur tanaman. Konsumsi pupuk pun kemudian ditekan sampai 50 persen untuk penghematan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, efisiensi bisa diraih dengan berbagai hal, di antaranya mengurangi frekuensi perjalanan bisnis, menekan biaya tetap, mengurangi pembelian bahan baku, memproduksi sesuai daya serap pasar, dan menghemat biaya gudang.

Pembelian bahan baku sesuai produksi dan memproduksi sesuai daya serap pasar bisa mempercepat perputaran barang dan menjaga arus kas. Strategi ini juga mampu menghemat biaya perawatan bahan baku atau stok produksi sehingga biaya operasional pergudangan menurun.

”Langkah-langkah ini bisa mengurangi biaya tetap sampai 10 persen. Selain itu, tentu saja, meningkatkan komunikasi di jajaran manajemen dan karyawan. Pemahaman karyawan terhadap kondisi saat ini sangat berperan menjaga daya tahan perusahaan. Saat porsi pekerjaan dikurangi, mereka tetap mau mengerjakan hal yang lain. Yang penting, PHK bisa dicegah,” kata Sofjan.

Berdebar

Krisis tidak hanya membuat jantung pengusaha berdebar-debar. Para pekerja pun kini mulai resah dengan kondisi perekonomian. Setiap hari ada saja perusahaan melakukan PHK pekerjanya, karena bangkrut atau pengurangan utilisasi pabrik.

Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sampai Jumat (23/1), jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 27.578 orang. Sebanyak 24.817 orang lagi sudah masuk daftar tunggu PHK.

Adapun pekerja yang sudah dirumahkan sampai Jumat (23/1) mencapai 11.993 orang. Sebanyak 11.191 orang lagi menunggu proses dirumahkan.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno menegaskan, pemerintah telah menyiapkan berbagai program pembangunan infrastruktur yang bertujuan menyerap korban PHK. Lapangan-lapangan kerja baru, terutama padat karya, terus disiapkan agar korban PHk bisa tetap bekerja.

Turunkan Biaya Tetap

Presiden Direktur PT Apac Inti Corpora Benny Soetrisno mengatakan, untuk bisa bertahan menghadapi krisis keuangan global, pengusaha harus berusaha keras menurunkan biaya. “Pangkas biaya perjalanan dinas. Kalau biasanya menggunakan pesawat kelas bisnis, ubah dengan kelas ekonomi,” kata Benny.

Penghematan listrik juga perlu dilakukan besar-besaran, misalnya, memanfaatkan lampu hemat energi. Pengecekan sumber-sumber energi yang boros juga diperlukan. Penggunaan kertas untuk mencetak (print) pun harus dilakukan. Jika perlu, kertas bekas dimanfaatkan bolak-balik. “Dalam perjalanan dinas, ambillah bolpoin dan kertas yang tersedia di hotel untuk dimanfaatkan lagi di kantor,” kata Benny yang mengaku kerap melakukannya.

Gerakan penghematan bisa dilakukan dengan mengubah sistem pembayaran upah lembur. Kalau biasanya upah lembur jam pertama berbeda dengan jam kedua dan selanjutnya, perlu dibuat kesepakatan dengan buruh agar upah lembur disamakan dengan upah lembur jam pertama.

Presiden Direktur Grup Indomobil Gunadi Sindhunata lebih menekankan pengontrolan stok. Pasokan bahan baku tahun lalu kini membebani modal kerja sehingga menjadi masalah besar.

Menurut Gunadi, kapasitas terpasang produksi membutuhkan mesin dan sumber daya manusia. Efisiensi bisa dilakukan dengan mengurangi jam lembur atau menyatukan shift kerja. (HAM/OSA)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 comments: