Pengembangkan Bisnis


Saya sering menemui, baik itu tukang bakso, tukang sate gule, tukang martabak dan pedagang kaki lima lainnya. Pertanyaan yang sering saya lontarkan adalah berapa lama usahanya beroperasi.

Luar biasa, jawabannya bermacam-macam. Ada yang 10 tahun, 17 tahun bahkan ada yang 30 tahun. Kemudian pertanyaan lain yang saya lontarkan adalah berapa lama usaha ini berdiri. Sebuah warung sate gule di Trenggalek, saya tanyai dan menjawab sejak tahun 1928. Pengelola sekarang adalah keturunan ke empat.

Lain lagi dengan pengrajin sepatu terkenal di Blitar, Sepatu Soepangat, yang dulu menjadi kebanggaan warga Blitar. Berdiri sejak tahun 1944. Dan banyak lagi cerita lainnya. Umumnya mereka bertahan puluhan tahun bahkan sampai ke beberapa generasi. Namun ada satu problem, mengapa usaha tersebut kok begitu-begitu saja, tidak tumbuh berkembang sesuai dengan umur usaha yang digelutinya.

Dalam branding pun juga nggak kalah. Hampir seantero kabupaten tahu tentang kualitas masakannya atau produksinya. Tetapi kenapa ndak pernah besar. Belajar dari pengalaman tersebut, saya mau share bagaimaa mengembangkan usaha agar bertumbuh dan berkembang. Berikut ini resepnya.

1.Mastery
Sebuah usaha harus digeluti sampai kita menguasai penuh proses dari awal sampai akhir. Dengan penguasaan ini akan memberikan keunggulan kompetitif dari bisnis yang kita geluti. Dengan memahami bisnis dan perilakunya akan memudahkan kita untuk bertahan sekaligus memberikan nilai tambah. Agar bisa mastery, unsure passion sangat penting. Bisnis yang sesuai dengan kesenangan atau hobby akan memacu kita untuk maju dan bertahan dari krisis.

2.Niche
Agar unggul, sebuah bisnis harus mampu melakukan creating value atau memberi nilai tambah. Kemudian yang tak kalah penting adalah melakukan diferensiasi agar produk tidak terjebak dalam komoditas yang ujung-ujungnya adalah persaingan harga. Untuk itu, sebagai pemula, mengembangkan ceruk pasar lebih tepat dibanding dengan melakukan bisnis yang bersifat general.

3.Leverage
Leverage atau pengungkit perlu dilakukan untuk menambah besar kapitalisasi usaha. Leverage dapat dilakukan dengan banyak cara, semisal efek tornado, atau memutar keuntungan untuk mengembangkan bisnis atau melalui sistematisasi bisnis sehingga terjadi kenaikan efektifitas dan efisiensi bisnis yang tinggi. Atau melalui pemasaran yang massif sehingga mendongkrak penjualan.

4.Team
Sebuah bisnis jika ingin besar, tentu tak dapat kita kelola sendiri. Perlu adanya team work yang solid yang mampu menggerakkan. Bentuklah team dan system sehingga owner bisnis tidak terpaku dalam operasional tetapi lebih dapat focus ke hal-hal yang strategis. Jika usaha membesar, maka perlu dibuat SOP atau standar operasinya. Untuk system yang perlu bangun adalah marketing, control dan SDM. Dengan terciptanya system, maka kendali perusahaan akan semakin mudah.

5.Sinergi
Untuk tumbuh menjadi besar perlu adanya sinergi, baik dari pemasok, internal team dan pelanggan. Dengan adanya sinergi maka akan dapat melakukan efisiensi proses dan biaya.

6.Result
Salah satu goal utama dalam sebuah bisnis adalah memperoleh laba yang optimal. Nah, jika usaha sudah proven, maka bisa dilakukan langkah berikutnya, yaitu Franchise atau go public sehingga kapitalisasinya semakin besar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Saat Krisis ...

Mau ndak mau, krisis Amrik bagaikan gelombang Tsunami. Tsunaminya di Amrik, riak gelombangnya sampai ke negeri kita.

Beberapa dampak dari runtuhnya kapitalisme Amrik, missal, China, ada 1.300 perusahaan bangrut. Jepang juga demikian. Belum lagi Singapura dan Hongkong yang mayoritas ekonominya sangat tergantung dengan Amrik.

Untuk Indonesia, sudah mulai terasa. Ekspor kayu ukiran di Jawa tengah drop 80% omsetnya. Eskpor tekstil tersendat, bahkan PHK 800 karyawan sudah dilakukan. Ekspor kelapa sawit jatuh sampai seharga 330 perak per kilonya, sehingga buah sawit dibiarkan busuk di batang pohon, karena biaya memetik tak sebanding dengan harga jualnya.

Hal lain, daya beli masyarakat turun drastis, barusan dari dealer motor di Bandung, menyatakan penjualannya turun drastic. Masyarakat kini membeli untuk barap atau produk yang dibutuhkan, produk turunan tak lagi dilirik karena cekaknya kantong.

Untuk property juga demikian. Barusan saya jual property di Balikpapan. Bisa laku saja saya sudah untung, mengingat suku bunga KPR demikian mencekik, 16%. Belum lagi plafon pinjaman kalau dulu rumah seken 70% kini hanya 50%, itupun dengan sangat selektif. Alhamdulillah rumah saya terjual, setidaknya bisa nambah cash flow dimasa krisis.

Nah, bagaimana bertahan dalam kondisi seperti ini. Rumusan sederhananya ada dua. Memaksimalkan pemasukan dan meminimalkan pengeluaran. Pengetatan ikat pinggang menjadi demikian penting. Barang yang nggak perlu dibeli ya ndak usah dibeli. Penghematan listrik, air, BBM dan lainnya perlu dilakukan.

Disatu sisi, memaksimalkan efektifitas dan efisiensi. Efektifitas adalah tercapainya sebuah goal perusahaan. Sedang efisiensi semaksimal mungkin mengelola sumberdaya sehingga benar-benar optimal dan tidak membuang-buang sumberdaya.

Ini menjadi demikian penting dalam bertahan dimasa-masa krisis saat ini. Saya dapat informasi, insya Allah Indonesia masih bisa bertahan, karena tidak sepenuhnya system ekonomi terjerembab dalam ekonomi barat. Disatu sisi masih cukup sumber daya domestic. Namun demikian, imbas krisis ini diprediksikan sampai sekitar 18 bulan.

Wah, kalau demikian masih panjang sembuhnya. Nah dalam kondisi seperti ini, kita perlu belajar pada Nabi Yusuf memanage negerinya saat menghadapi krisis selama 7 tahun lamanya.

Be Effective & Efficien

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

5 Kunci Kejayaan

Saya kembali tersengat ketika membaca dalam satu halaman buku Organization Excellence nya Dr. Vincent Gastperz. Dia sebutkan bahwa ada 5 pinsip sebagai seorang winner untuk mencapai kesuksesan.

Berikut ini prinsipnya dan Anda bisa mencobanya. Saya yakin akan terasa bedanya.

1. Mereka Menetapkan Tujuan
Dalam Seven Habbits nya Stephen Covey dia sebutkan “start from the end” mulailah dari goal Anda. Orang atau organisasi jika tidak pernah menentukan tujuan/goal/sasaran niscaya ridak tahu kemena mereka akan bergerak. Sangat simpel tapi seringkali dilupakan orang apalagi yang berpaham jalani hidup layaknya air mengalir. Kesuksesan seringkali tercipta ketika momentum datang disertai dengan kesiapan kita menyambutnya. Tanpa adanya tujuan, seringkali momentum lewat begitu saja. Jadi, aturan pertama, kita harus menetapkan GOAL

2. Mereka Fokus pada Tujuan
Kita ini bukan seorang Superman atau Superstar. Waktu kita teramat sedikit untuk mengerjakan banyak hal. Kemampuan kita juga teramatt minim untuk mengerjakan semua pekerjaan dalam hidup ini. Juga konsentrasi kita teramat cair untuk fokus dalam banyak hal, meskipun keinginan hati selalu ingin semuanya kita capai. Jadi gunakan prinsip Pareto 80/20. Prinsip prioritas. 20% menghasilkan 80%. Fokuskan pada nilai keunggulan diri dan jangan berfokus pada kelemahan diri. Berfokus pada kekuatan yang kita miliki jauh lebih efektif daripada membenahi sisi-sisi lemah kita. Jadi pertajam terus kekuatan diri hingga meruncing yang akhirnya memberikan value added dan nilai kompetitif. Bersiaplah untuk gagal jika Anda ingin mengerjakana semua bisnis jika hanya punya kemampuan ala kadarnya. Fokuslah pada goal Anda

3. Mereka Memiliki Ketetapan Hati untuk Mencapai Goal
Ini intisari dari kata ulet dan sabar. Jika menekuni suatu bidang, tentu akan kita temui berbagai kendala, tetapi tetap bersabar dan ulet mensolusi setiap permasalah. Dengan mensolusi masalah maka kita akan naik kelas lebih tinggi dalam bidang yang kita tekuni. Disinilah kita diuji untuk menaiki tangga-tangga kesulitan, semakin tinggi semakin tinggi pula tingkat kesulitannya. Yakinlah, setelah ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Semakin anda fokus, semakin kecil kompetitor Anda, karena memang semakin sedikit player yang bermain dan hanya orang yang diberi endurance tertentu saja yang mampu bertahan.

4. Mereka Berfokus Pada Mensolusi Masalah
Ketika disekelilingnya banyak orang berkeluh kesah dengan banyak hal, seorang winner mengambil sisi yang tidak umum. Mereka selalu melihat dari sisi solusi dan peluang. Mereka tidak bersekutu dengan orang yang selalu mempermasalahkan setiap kehidupannya. Mereka tidak mempermasalahkan situasi dan kondisi tetapi selalu mengkondisikan diei pada situasi yang tepat untuk mensolusi sebuah masalah.

5. Mereka Menolak Berhenti dan Mengubah Tujuan
Bagi seorang winner, saat menemui kendala mereka tidak berkompromi dengan godaan untuk mengubah goal dan cita-citanya. Ini seringkali kita lihat, orang pengin punya bisnis, lantas membuat suatu usaha, ketika usahanya naik turun mereka berganti bisnis, dan terus begini ketika menghadapi kesulitan di setiap bisnisnya. Ketiadaan istiqomah menyebabkan bisnis tidak pernah besar. Karena besarnya usaha ibarat sebuah tanaman, sedari bibitnya sampai berbuah perlu usaha ekstra untuk memeliharanya. Jangan bermimpi memiliki usaha besar kalau hanya sekedar menyemai benih tanpa mau memeliharanya, walau benih itu benih yang bagus. Ia tak akan memberikan hasil yang optimal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Minda Bisnis

Dulu, dulu sekali, ketika saya masih awal-awal bekerja. Tidak pernah terpikirkan untuk investasi properti. Apalagi saat masih bujang, gaji yang masuk ndak pernah terpikirkan mau diapakan, yang penting kebutuhan dasar terpenuhi ya sudah.

Lantas saat menikah, mau ndak mau harus berpikir rumah tinggal.Lantas dalam perjalannannya sedikit demi sedikit berkenalan dengan entrepreneurship. Ikutlah saya dalam bisnis properti kecil-kecilan. Pernah beli 3 buah kios kecil di Balikpapan, kemudian beli 3 kavling dilokasi yang berbeda dan juga membeli sebuah rumah.

Kas saya tersedot untuk transaksi properti tersebut, salah satunya saya belum punya sebuah bisnis yang dapat berjalan.

Saat mengikuti sebuah training EU Entrepreneur University, saya mendapat pencerahan dari Pak Purdi “Purdie Candra” bos Primagama. Dan saat itulah saya bergabung dengan EU-2 di Balikpapan. Banyak pencerahan yang saya dapatkan dari para mentor, mulai keberanian memulai bisnis, mengelola kas, sampai level eksekusi.

Waktu terus berlangsung sampai saya tamat mengikuti kurikulum EU-2 dan sempat benchmark ke Jogjakarta, mulai dari Bakmi Mbah Mo, Soto Kadipiro dan beberapa industri kerjaninaan yang luar biasa.

Kembali ke properti, resep Pak Purdie adalah :

Mulailah dari Bisnis
Bagi Anda yang masih muda, saya sarankan ndak usah dulu tergiur mengelontor uang hasil kerja Anda ke invetasi properti. Jika Anda mengelontorkan semua investasi ke properti maka kita akan kekurangan cash flow. Biasanya pekerja pemula tidaklah begitu besar gajinya jika dibanding dengan pekerja senior. Lebih baik memulai berbisnis. Kelebihan uang konsumsi bulanan kita dapat dimanfaatkan untuk memulai usaha kecil-kecilan untuk mendapatkan cash daripada dibenamkan untuk membeli properti.

Disini kita tidak akan mengalami pelambatan dalam belajar bisnis. Semakin tua usia kita semakin riskan kita berbisnis. Berbisnislah sejak muda, karena bisnis itu tidaklah segampang menghitung diatas kertas. Saya temui banyak kegagalan yang dialami jika kita memulai usaha saat usia sudah lanjut. Jiwa bisnis itu dibangun dalam sebuah proses, tidak bisa sim salabim. Dengan membangun jiwa bisnis sejak usia muda akan memperkokoh kita khususnya minset saat tua.

Selagi muda lebih baik kita jungkir balik dengan kegagalan serta menghabiskan kegagalan itu daripada memendamnya diusia tua. Saat muda ketika terjatuh tidak terlalu berat untuk bangun, tetapi tatkala tua, bangun dari sebuah kegagalan sangatlah sulit dan menyisakan trauma yang kuat.


Kemudian Masuk Properti
Nah, ketika usaha sudah memberikan cashflow, maka carilah leverage (pengungkit) usaha dengan berinvestasi dengan properti. Invest ketika sudah punya cash flow yang bagus akan memberikan value yang sangat baik bagi bisnis kita. Usaha ditambah properti akan menjadi pengali yang sangat menguntungkan.

Cara ini banyak dipakai oleh para pengusaha kawakan. Setelah meraka menyiapkan cashflow melalui sebuah usaha mereka melebarkan sayap dengan berinvestasi di sektor properti. Selain dari kenaikannya umumnya diatas suku bunga bank, properti juga dapat disekolahkan untuk mendapatkan cash flow yang mana dapat diputar memperkokokh cashflow usaha. Inilah rahasianya.


Kemudian Masuk Bursa
Nah, terus terang saya tidaklah paham banyak tentang bursa. Intinya, saat bisnis berkembang, untuk mendapatkan cashflow yang lebih besar, maka memperoleh dana dari masyarakat melalui penjualan saham sangat menguntungkan. Wow…Memutar dana dari masyarakat untuk memperbesar usaha. Dari sinilah mereka tumbuh menjadi besar dan besar.

Sudah siapkah Anda berinvestasi di sektor properti ? Mulailah bisnis dulu sebelum melakukan itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Jati Diri Melayu

SEKIRANYA perbincangan mengenai ketuanan Melayu masih dilihat dari sudut kepentingan politik, maka penulisan sebegini barangkali sudah tidak lagi sesuai untuk dihasilkan.

Ini kerana isu mengenai ketuanan Melayu yang dibangkitkan oleh beberapa pemimpin politik beberapa waktu dahulu sudah boleh dianggap basi, kerana tumpuan kepentingan politik ketika ini beralih kepada isu lain, yang mungkin lebih relevan dengan kehadiran pilihan raya kecil di Kuala Terengganu pada 17 Disember ini.

Isu ketuanan Melayu itu juga dikatakan hanya bersifat kepentingan politik semata-mata kerana perbincangan mengenainya tidak diperpanjangkan kepada satu bentuk tindakan yang lebih konkrit.

Sebaliknya sekadar perdebatan dan perang mulut yang berdegang-degang oleh beberapa kerat pemimpin politik yang kemudiannya sunyi sepi tidak ubah seperti hangat-hangat tahi ayam.

Lalu bukanlah sesuatu yang menghairankan apabila majlis-majlis ilmu yang secara khusus membincangkan mengenai isu ketuanan Melayu langsung tidak mendapat perhatian di kalangan orang politik.

Keadaan yang sama, sekali lagi dapat disaksikan ketika berlangsungnya Seminar Nasional Ketuanan Melayu anjuran Kolej Antarabangsa Dunia Melayu Dunia Islam (KADMDI), di MITC, Ayer Keroh, Melaka, minggu lalu.

Seminar ini membawa tema yang sangat berat untuk difikirkan iaitu "Konsep dan Cabaran Dalam Pembinaan Negara Bangsa dan Berdaulat," serta dibarisi oleh tidak kurang 20 orang cerdik pandai dan pakar dalam bidang ketuanan Melayu.

Sedangkan seminar itu merupakan pentas yang paling tepat untuk memahami apakah sebenarnya ketuanan Melayu yang ketika ini cuba diruntuhkan menerusi penyelewengan pemahaman oleh sesetengah pihak atas kepentingan peribadi.

Pelbagai penafsiran yang tidak tepat mengenai ketuanan Melayu antaranya Malay supremacy, Malay hegemoni, tuan dan hamba dan banyak lagi digembar-gemburkan bertujuan untuk menakut-nakutkan terutamanya orang bukan Melayu.

Lebih menggerunkan apabila ketuanan Melayu itu cuba dilihat sebagai satu ideologi perkauman berasaskan keagungan bangsa, cauvinistik dan permainan politik terutamanya yang didokong oleh orang UMNO.

Malangnya tidak ramai ahli UMNO sendiri yang mampu untuk mengupas dan menghuraikan mengenai ketuanan Melayu, jauh sekali untuk berhujah menangkis dakwaan yang menolak ketuanan Melayu.

Sekali lagi timbul persoalan adakah ketidaksungguhan pemimpin UMNO itu kerana parti yang memayungi orang Melayu ini tidak lagi menjadikan ketuanan Melayu sebagai asas perjuangan?

Perkara ini jika ditujukan kepada kalangan pemimpin UMNO pastinya akan disambut dengan reaksi amarah.

Tidak kurang juga ada yang akan melenting. Namun, di mana semangat perjuangan orang UMNO itu terhadap mempertahankan ketuanan Melayu sekiranya majlis-majlis wacana ilmu seperti ini tidak mendapat sambutan dan perhatian daripada mereka yang mengaku pembela bangsa ini?

Justeru seperti yang ditegaskan oleh Pengarah Akademi Pengajian Melayu Universiti Malaya (UM), Prof. Madya Datuk Dr. Zainal Abidin Burhan, sudah tiba masanya untuk pendidikan dan sosialisasi politik dilakukan semula dalam mengembalikan semangat perjuangan pemimpin UMNO dan ahlinya terhadap konsep ketuanan Melayu.

Ahli-ahli UMNO juga jelas beliau, perlu dididik menerusi satu kurikulum yang khusus untuk memahami seluruh aspek kemelayuan serta segala tuntutan pihak lain yang bertujuan mengecilkan UMNO dan Melayu.

Paling penting, Zainal Abidin menerusi pembentangan kertas kerjanya yang bertajuk "Ketuanan Melayu-Lambang Perpaduan, Kedaulatan dan Kewibawaan Malaysia" menjelaskan, ahli UMNO perlu dari semasa ke semasa memahami seluruh perbincangan mengenai ketuanan Melayu dari sudut pasca modenisme dan pasca kolonial, lebih-lebih lagi neoliberalisme dan hak asasi manusia.

''Ini kerana penolakan ketuanan Melayu itu ada kaitannya dengan pendirian mengutamakan kepelbagaian budaya dan bahasa serta pluralisme agama yang berteraskan hak asasi manusia iaitu lanjutan suara Malaysian Malaysia yang pernah diperjuangkan oleh Lee Kuan Yew dan Malayan Union yang digagaskan oleh British," katanya.

Justeru seperti yang dijelaskan lebih awal, kefahaman mengenai ketuanan Melayu itu tidak seharusnya dilihat dari sudut politik, sebaliknya satu pegangan di kalangan masyarakat Malaysia selaras dengan peruntukan Perlembagaan.

Kefahaman

Maka, adalah wajar untuk kefahaman mengenainya diperpanjangkan kepada seluruh rakyat Malaysia menerusi sistem pendidikan sama ada secara formal atau tidak formal.

Di samping itu, media massa sama ada bercetak atau elektronik pula memikul peranan secara tidak formal dengan memperbanyakkan filem, animasi dan lagu-lagu berhubung ketuanan Melayu.

Usaha itu pula diperkukuhkan lagi oleh para intelektual dan cendekiawan Melayu menerusi penulisan dan penerbitan buku yang menjurus kepada pentafsiran mengenai ketuanan Melayu secara lebih meluas dan mendalam.

Pengertian yang jelas mengenai konsep ketuanan Melayu itu sama ada di kalangan orang Melayu atau bangsa lain secara tidak langsung menolak kepada gagasan ketuanan rakyat seperti yang dilaungkan oleh pembangkang serta beberapa kumpulan generasi muda dengan aliran pemikiran yang liberalis.

Ini kerana perjuangan ketuanan rakyat lebih menjurus kepada konsep satu bangsa satu negara, atau dari konteks orang Melayu dari Kemelayuan ke Kemalaysiaan dan barangkali, dari keislaman ke Islam yang liberal dan mudah lentur kepada tuntutan pluralisme agama.

''Sekiranya keadaan ini berlaku, maka martabat dan maruah Melayu sebagai bangsa yang besar di kepulauan Melayu ini akan menjadi kecil dan tidak mustahil akan pupus satu hari ini lantaran ideologi Melayu Islam itu tidak lagi dimantapkan sebagai asas perjuangan yang kukuh," ujar Zainal Abidin.

Justeru, adalah satu keutamaan ketika ini untuk meletakkan perjuangan ketuanan Melayu itu melangkaui kepentingan politik dan menjadikannya sebagai paksi dan induk perpaduan serta kewibawaan Malaysia.

Betapa ketuanan Melayu itu seharusnya mendasari asas perjuangan politik orang Melayu adalah kerana ia merupakan benteng kepada kedaulatan Melayu tidak hanya di rantau ini, malah di seluruh dunia.

Atas kepentingan itu, Penyandang Kursi Ghafar Baba, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Prof. Datuk Dr. Zainal Kling ketika sesi penggulungan seminar yang sama memberi penekanan, supaya setiap daripada Melayu perlu menyedari hakikat tersebut.

Dalam erti kata yang lebih luas, beliau menyeru orang Melayu untuk tidak melepaskan kepentingan mempertahankan ketuanan Melayu itu di tangan pemimpin politik semata-mata, sebaliknya perlu bermula secara individu iaitu dari dalam jiwa setiap orang Melayu.

Sesuatu yang positif mengenai perdebatan polemik ketuanan Melayu kebelakangan ini ialah apabila bercambahnya kesedaran terutamanya di kalangan pertubuhan berasaskan Melayu untuk bangkit mempertahankan ideologi ini.

''Tanpa ilmu yang mendalam mengenai isu ini, maka orang Melayu tidak mungkin mampu mencabar setiap hujah yang dikemukakan dan kita juga selamanya akan dilihat sebagai orang yang lemah dan kalah," ujar beliau.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Bazar SDSI Sabah.

KOTA KINABALU 12 Jan. - Orang ramai yang mengunjungi Bazar Satu Daerah Satu Industri (SDSI) di sini menyifatkan penganjuran bazar itu sebagai batu loncatan untuk pengusaha-pengusaha kecil di negeri ini mengembangkan perniagaan mereka ke pasaran lebih luas.Menurut mereka, ruang dan peluang yang diberikan melalui bazar itu perlu digunakan sebaiknya oleh para pengusaha dan pada yang sama orang ramai akan turut didedahkan dengan produk-produk tempatan.Balau Rudin, 50, dari Papar berkata, bazar berkenaan perlu disertai lebih ramai pengusaha industri kecil dan sederhana (IKS) supaya dapat mempromosikan hasil mereka."Ini bagi memastikan produkproduk mereka yang selama ini dianggap sebagai produk kampung diketengah dan didedahkan untuk tatapan umum supaya orang ramai mengetahuinya.

"Dengan cara ini, produk-produk ini yang dahulunya hanya dikenali di peringkat kampung akan dapat perhatian sewajarnya. Saya percaya orang Sabah akan lebih menghargainya," katanya.

Jeffri Johnnie, 38, berkata, bazar itu akan membuka mata orang ramai kerana sebelum ini produk kampung dijual dalam bentuk yang tidak menarik dan tidak mempunyai nilai komersial.

Beliau yang kini menetap di Likas menambah, melalui pembungkusan dan label pelekat yang lengkap, produk-produk IKS akan dilihat setanding dengan produk dari Sarawak atau Semenanjung."Bukan sahaja boleh bersaing di peringkat negeri atau pun nasional tetapi juga berupaya menembusi pasaran antarabangsa kerana penampilannya yang profesional dan meyakinkan," katanya.Bagi Suhaili Omar, 58, pula, bazar itu perlu dianjur secara lebih kerap dalam setahun bagi membolehkan pengusaha-pengusaha kecil mempunyai tempat untuk memperkenalkan produk mereka.Beliau yang berasal dari Papar berkata, para pengusaha juga boleh bertukar-tukar pandangan dan pengalaman sesama mereka bagi memantapkan lagi produk masing-masing.

"Bazar SDSI perlu menjadi platform yang betul-betul memberi manfaat kepada para pesertanya dan bukan sekadar mempromosikan produk-produk kepada orang ramai," ujarnya.Pada penganjuran akan datang, dia mencadangkan supaya diadakan di kawasan awam yang menjadi tumpuan utama supaya lebih ramai yang akan mengetahui produk-produk mereka.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Rezeki Pilihanraya Kecil P036.


Mohamad Riduwan Hamzah dibantu isterinya, Rozita Abas menjahit kasut di Kampung Tanjung, Kuala Terengganu, semalam.

KUALA TERENGGANU 12 Jan. - Kempen Pilihan Raya Kecil Parlimen Kuala Terengganu bukan sahaja memberi rezeki tambahan kepada para peniaga kedai makanan serta barangan lain, malah tukang kasut.Mereka yang menjalankan perniagaan mereka berhampiran dengan pusat membeli-belah dan di tepi premis lain turut mendapat limpahan rezeki yang berlebihan jika dibandingkan sebelum ini.

Ini berikutan kedatangan orang luar dari Selangor, Johor, Kelantan dan Kedah ke negeri ini untuk membantu calon parti masing-masing.

Seorang tukang kasut, Mohamad Riduwan Hamzah, 42, berkata, rezeki yang diperoleh sejak akhir-akhir ini agak meningkat sedikit berikutan dengan kehadiran orang luar ke bandar ini untuk berkempen pada pilihan raya itu.Beliau yang tinggal di Kampung Tanjung di sini berkata, jika sebelum ini purata pendapatannya antara RM40 hingga RM50 sehari tetapi sejak kempen pilihan raya bermula pendapatannya boleh mencecah sehingga RM60 hingga RM70 sehari dengan jumlah kasut 20 pasang dan 30 pasang.

''Kasut serta selipar yang jahit atau ditampal itu termasuk milik orang luar yang datang ke sini kerana kempen pilihan raya," katanya ketika ditemui di premisnya berhampiran Pusat Membeli Belah Astaka di sini, hari ini.Mohamad Riduwan mempunyai dua anak menjalankan perniagaan itu sejak empat tahun lalu dengan dibantu oleh isterinya, Rozita Abas, 32.Dia berkata, jika terdapat banyak kasut yang perlu dijahit, dia terpaksa meminta isterinya datang membantu di premisnya.''Saya perlu meminta pertolongan isteri saya supaya kasut serta selipar yang dihantar orang ramai itu dapat disiapkan secepat mungkin, terutama pada masa sekarang ini apabila tempahan semakin bertambah," ujarnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments